27 April 2026

Digital Skills dan Pergeseran Daya Serap Lulusan Perguruan Tinggi

LAPORAN Future of Jobs Report 2023 memperkirakan bahwa sekitar 23 % pekerjaan global akan berubah struktural pada 2027 akibat otomatisasi dan digitalisasi, dengan 69 juta pekerjaan baru akan muncul. Bayangkan, pekerjaan yang hari ini kita kenal bisa lenyap dalam lima tahun ke depan, digantikan oleh pekerjaan baru yang belum pernah kita bayangkan. Selain itu, 44 % keterampilan inti pekerja diproyeksikan berubah dalam lima tahun ke depan, menunjukkan arus transformasi bidang pekerjaan yang tidak bisa diabaikan. Dalam daftar keterampilan yang diprediksi yang paling dibutuhkan lima hingga sepuluh tahun ke depan, kemampuan analisis data, literasi teknologi, pemahaman kecerdasan artifisial, serta digital collaboration menduduki posisi teratas. Bukan lagi sekadar “nilai tambah”, melainkan fondasi. Temuan serupa juga dikonfirmasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Digitalisasi dan otomasi bukan hanya mengubah sektor teknologi, tetapi merembes ke manufaktur, pertanian, kesehatan, hukum, pendidikan, bahkan layanan publik. Dalam konteks Asia Tenggara, Asian Development Bank (ADB) menekankan bahwa transformasi digital akan menciptakan jutaan peluang kerja baru namun hanya bagi tenaga kerja yang memiliki kompetensi digital memadai.

Di Indonesia sendiri diperkirakan akan terjadi kekurangan sekitar 9 juta pekerja ICT pada 2030 bila kebutuhan industri digital terus meningkat tanpa peningkatan keterampilan tenaga kerja, sedangkan saat ini 50 % tenaga kerja hanya memiliki keterampilan digital dasar sampai menengah. Kita sedang menyaksikan perubahan struktur ekonomi, bukan sekadar perubahan alat kerja. Yang berubah bukan hanya cara manusia mengetik, menghitung, atau berkomunikasi, tetapi cara nilai diciptakan dan didistribusikan. Jika pada era industri nilai ekonomi bertumpu pada kepemilikan mesin dan tenaga fisik, maka pada era digital nilai lahir dari penguasaan data, algoritma, dan jaringan. Perusahaan-perusahaan dengan aset fisik minimal dapat memiliki valuasi triliunan karena kekuatan platform dan informasi yang mereka kelola. Rantai pasok menjadi lebih pendek, model bisnis menjadi lebih ramping, dan batas geografis menjadi semakin kabur. Ekonomi tidak lagi sepenuhnya berbasis produksi barang, tetapi pada pengolahan informasi dan kecepatan respons terhadap perubahan pasar.

Lanjut baca di  https://www.kompas.com/edu/read/2026/02/14/090258271/digital-skills-dan-pergeseran-daya-serap-lulusan-perguruan-tinggi.