SETIAP tahun, ratusan ribu mahasiswa Indonesia diwisuda dengan wajah semringah. Mereka berdiri gagah di podium, memamerkan toga dan senyum kebanggaan orangtua. Di balik seremoni itu, ada harapan besar: pekerjaan layak, penghasilan stabil, dan hidup yang lebih baik. Namun, beberapa bulan setelah toga dilipat dan ijazah disimpan rapi, senyum itu memudar pelan-pelan. CV dikirim, lamaran disusun, tapi tak kunjung ada panggilan. Waktu berjalan, rasa percaya diri menurun, dan kegelisahan mulai mengendap. Sebagian besar dari mereka menghadapi dunia kerja yang tak sesuai bayangan. Lulusan kampus kita seperti belajar di satu dunia, lalu dilempar ke dunia lain yang bahasanya pun berbeda.
Di bangku kuliah, mereka menghafal teori, mengejar nilai, dan menyusun skripsi yang jarang disentuh dunia industri. Sementara dunia kerja menuntut adaptasi cepat, kemampuan kolaborasi, literasi digital, dan kepekaan terhadap dinamika pasar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan perguruan tinggi mencapai 5,41 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding lulusan SMA (4,84 persen), menunjukkan bahwa gelar sarjana tak menjamin jalan mulus ke dunia kerja.
Ini bukan sekadar soal minimnya lapangan kerja, tetapi lebih dalam: persoalan ketidaksesuaian kompetensi. Lulusan sering tak siap secara soft skill, tidak memahami dinamika industri, kurang portofolio kerja, dan minim jaringan profesional yang bisa membuka peluang.
Kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia masih cenderung kaku, terlalu akademis, dan lambat merespons perubahan zaman. Di banyak kampus, perubahan kurikulum masih menjadi agenda birokratis yang melelahkan: harus melalui senat, akreditasi, revisi silabus, dan pertimbangan administratif yang sering tidak berpihak pada kebutuhan dunia kerja. Akibatnya, program studi lebih sibuk menjaga nilai-nilai formil seperti jumlah SKS, bobot teori, dan urutan mata kuliah, alih-alih menyiapkan mahasiswa untuk fleksibilitas karier dan tantangan global. Kampus masih bangga dengan pencapaian IPK tinggi dan status akreditasi unggul. Padahal, perusahaan jarang menanyakan IPK dalam wawancara kerja. Dunia kerja lebih menilai keterampilan nyata seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, adaptabilitas, literasi data dan digital, serta kapasitas belajar sepanjang hayat.
BACA SELENGKAPNYA PADA :
Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2025/06/22/070332571/urgensi-revitalisasi-pusat-karier-kampus.