Ular Tangga Bisnis 🎲

Pion 🔴 vs AI 🔵 | Dilengkapi Efek Suara Audio API

ANDA (🔴)
Kotak 1
AI (🔵)
Kotak 1
DADU
-

Kocok dadu untuk memulai kompetisi ruko bisnis!

4 Oktober 2026

AKUNTANSI KEPERILAKUAN : MODUL 1

MODUL PERTEMUAN 1


Tujuan Instruksional Khusus (TIK): Mahasiswa mampu menguraikan pergeseran paradigma dari akuntansi prosedural mekanistis ke akuntansi keperilakuan serta membuktikan keterbatasan kapasitas kognitif manusia dalam memproses informasi keuangan yang kompleks.

Uraian Materi:
  1. Pergeseran Paradigma Akuntansi: Secara historis, akuntansi dipandang sebagai fungsi teknis-pembukuan murni (procedural book-keeping). Pendekatan keperilakuan memandang akuntansi sebagai sistem sosio-teknis: informasi keuangan diproduksi oleh manusia, ditafsirkan oleh manusia, dan digunakan untuk mengarahkan tindakan manusia (Birnberg et al., 2007). Akuntansi tidak bebas nilai; angka akuntansi adalah artefak sosial yang mengonstruksi realitas organisasi.
  2. Kritik atas Model Homo Economicus: Model ekonomi neoklasik mengasumsikan pengambil keputusan memiliki rasionalitas sempurna (perfect rationality), informasi simetris tanpa biaya, preferensi yang stabil, dan kapasitas komputasi tanpa batas untuk memaksimalkan utilitas (utility maximizing).
  3. Teori Rasionalitas Terbatas (Herbert Simon, 1955, 1957): Herbert Simon mendemonstrasikan bahwa dalam realitas bisnis, manusia menghadapi batasan fisiologis dan situasional: kapasitas memori kerja (working memory) yang sempit, waktu yang terbatas, dan ambiguitas informasi masa depan. Akuntan tidak beroperasi sebagai agen maximizing, melainkan mengadopsi strategi satisficing—yakni memilih alternatif tindakan pertama yang dinilai memenuhi ambang batas aspirasi minimum.
  4. Implikasi Keperilakuan pada Desain Pelaporan: Kelebihan muatan informasi (information overload) justru menurunkan kualitas pertimbangan akuntan. Desain sistem pelaporan keuangan harus mempertimbangkan batas kapasitas perhatian (cognitive bandwidth) pemakai informasi.
Agenda Diskusi Konseptual:
Mengapa penyajian laporan keuangan yang terlalu tebal dengan catatan kaki yang sangat kompleks justru dapat memperburuk kualitas keputusan investor individu ditinjau dari konsep Bounded Rationality?

Tugas Individual : 

Daftar Pustaka Rujukan:
  • Simon, H. A. (1955). A behavioral model of rational choice. The Quarterly Journal of Economics, 69(1), 99-118.
  • Simon, H. A. (1957). Models of Man, Social and Rational: Mathematical Essays on Rational Human Behavior in a Social Setting. John Wiley & Sons.
  • Birnberg, J. G., Luft, J., & Shields, M. D. (2007). Psychology theory in management accounting research. Handbook of Management Accounting Research, 1, 113-135

12 Juni 2026

Kemalasan Kognitif: Salah AI atau Manusia?

SETIAP zaman selalu merasa hidup di ambang krisis. Ketika teknologi baru muncul, manusia kerap cemas: apakah kali ini kita akan kehilangan sesuatu yang paling berharga yakni akal sehat dan kemampuan berpikir? Hari ini, kecemasan itu tertuju pada kecerdasan buatan. AI dituding membuat manusia malas berpikir, terlalu bergantung pada mesin, dan perlahan kehilangan daya nalar. Tuduhan ini terdengar masuk akal. Namun, jika kita bersedia berhenti sejenak dan membuka kembali sejarah panjang peradaban, kegelisahan ini ternyata bukan barang baru. Sejak awal, manusia tidak pernah menyelesaikan masalah hidupnya hanya dengan otak telanjang. Kita selalu menggunakan alat bantu sebagaimana disuarakan Clark & Chalmers dalam artikel mereka berjudul The Extended Mind (1998). Ketika manusia purba menggambar simbol di dinding gua, ia sedang menyimpan ingatan dan makna di luar dirinya. Ketika tulisan ditemukan, manusia tidak lagi harus menghafal segalanya. Ingatan dipindahkan ke medium yang bisa dibaca ulang, diperdebatkan, dan diwariskan. Banyak orang lupa bahwa pada masanya, tulisan pun pernah dicurigai. Plato khawatir tulisan akan melemahkan daya ingat dan melahirkan kebijaksanaan semu. Sejarah justru membuktikan sebaliknya. Pola ini terus berulang. Mesin cetak, kalkulator, komputer, hingga internet, semuanya pernah dianggap ancaman bagi cara manusia berpikir. Namun manusia tidak menjadi lebih bodoh. Ia hanya berubah.

Psikologi kognitif menunjukkan bahwa manusia memang cenderung memindahkan beban ingatan dan perhitungan ke alat bantu. Daniel Wegner (1985) menyebutnya sebagai transactive memory ; kita tidak harus tahu segalanya, cukup tahu ke mana harus mencari. Ini bukan kelemahan, melainkan strategi bertahan hidup dalam dunia yang makin kompleks. AI lahir dari kebutuhan yang sama. Dunia hari ini dipenuhi data, persoalan saling terkait, dan keputusan yang harus diambil cepat. Tidak ada individu yang mampu memproses semuanya sendirian. AI diciptakan bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk membantu mengelola kompleksitas itu.

Baca selengkapnya di : https://www.kompas.com/sains/read/2026/03/15/092841723/kemalasan-kognitif-salah-ai-atau-manusia.



27 April 2026

Digital Skills dan Pergeseran Daya Serap Lulusan Perguruan Tinggi

LAPORAN Future of Jobs Report 2023 memperkirakan bahwa sekitar 23 % pekerjaan global akan berubah struktural pada 2027 akibat otomatisasi dan digitalisasi, dengan 69 juta pekerjaan baru akan muncul. Bayangkan, pekerjaan yang hari ini kita kenal bisa lenyap dalam lima tahun ke depan, digantikan oleh pekerjaan baru yang belum pernah kita bayangkan. Selain itu, 44 % keterampilan inti pekerja diproyeksikan berubah dalam lima tahun ke depan, menunjukkan arus transformasi bidang pekerjaan yang tidak bisa diabaikan. Dalam daftar keterampilan yang diprediksi yang paling dibutuhkan lima hingga sepuluh tahun ke depan, kemampuan analisis data, literasi teknologi, pemahaman kecerdasan artifisial, serta digital collaboration menduduki posisi teratas. Bukan lagi sekadar “nilai tambah”, melainkan fondasi. Temuan serupa juga dikonfirmasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Digitalisasi dan otomasi bukan hanya mengubah sektor teknologi, tetapi merembes ke manufaktur, pertanian, kesehatan, hukum, pendidikan, bahkan layanan publik. Dalam konteks Asia Tenggara, Asian Development Bank (ADB) menekankan bahwa transformasi digital akan menciptakan jutaan peluang kerja baru namun hanya bagi tenaga kerja yang memiliki kompetensi digital memadai.

Di Indonesia sendiri diperkirakan akan terjadi kekurangan sekitar 9 juta pekerja ICT pada 2030 bila kebutuhan industri digital terus meningkat tanpa peningkatan keterampilan tenaga kerja, sedangkan saat ini 50 % tenaga kerja hanya memiliki keterampilan digital dasar sampai menengah. Kita sedang menyaksikan perubahan struktur ekonomi, bukan sekadar perubahan alat kerja. Yang berubah bukan hanya cara manusia mengetik, menghitung, atau berkomunikasi, tetapi cara nilai diciptakan dan didistribusikan. Jika pada era industri nilai ekonomi bertumpu pada kepemilikan mesin dan tenaga fisik, maka pada era digital nilai lahir dari penguasaan data, algoritma, dan jaringan. Perusahaan-perusahaan dengan aset fisik minimal dapat memiliki valuasi triliunan karena kekuatan platform dan informasi yang mereka kelola. Rantai pasok menjadi lebih pendek, model bisnis menjadi lebih ramping, dan batas geografis menjadi semakin kabur. Ekonomi tidak lagi sepenuhnya berbasis produksi barang, tetapi pada pengolahan informasi dan kecepatan respons terhadap perubahan pasar.

Lanjut baca di  https://www.kompas.com/edu/read/2026/02/14/090258271/digital-skills-dan-pergeseran-daya-serap-lulusan-perguruan-tinggi.