6 Januari 2026

Redenominasi Rupiah dan Dampaknya bagi Dunia Kerja

WACANA penyederhanaan nominal rupiah (redenominasi) atau penghapusan sejumlah nol tanpa perubahan daya beli riil kembali menjadi sorotan. Proses yang tampak teknis ini sebenarnya menyentuh jantung ekonomi nasional: sistem upah, konsumsi rumah tangga, serta struktur tenaga kerja. Namun, yang sering terabaikan dalam diskusi adalah dampaknya terhadap ketenagakerjaan, terutama bagi 59,4 persen pekerja Indonesia yang kini berada di sektor informal. Dalam wacana redenominasi, yang sering kali hanya dibahas dari sisi teknis-moneter, ada dimensi manusia yang kerap terabaikan, yaitu psikologi uang.

Di sinilah teori ekonomi perilaku yang mempelajari bagaimana manusia sebenarnya membuat keputusan ekonomi menjadi relevan. Pertama, ada yang disebut sebagai "Ilusi Uang" (Money Illusion) yang dikemukakan oleh Shafir, Diamond, dan Tversky (1997).

Manusia secara alami cenderung terpaku pada nilai nominal, bukan nilai riil. Seorang buruh yang biasa melihat gaji Rp 5.000.000 di slip gaji, lalu tiba-tiba melihat angka Rp 5.000, bisa saja merasa dirinya menjadi "lebih miskin", meski daya belinya persis sama. Otak kita sulit menerima kenyataan bahwa angka yang lebih kecil bisa setara dengan angka yang lebih besar. Ini bukanlah kesalahan logika, melainkan bias psikologis yang mendalam.

Kedua, "Efek Pembingkaian" (Framing Effect) sebagaimana dikemukanan Tversky dan Kahneman (1981). Cara sebuah informasi disajikan akan memengaruhi cara kita mempersepsikannya. Redenominasi membingkai ulang seluruh angka dalam ekonomi kita menjadi lebih "kecil". Dalam benak banyak pekerja, terutama yang bergaji harian, angka yang kecil ini bisa secara tidak sadar dibingkai sebagai "penurunan", "pengurangan", atau "kehilangan". Padahal, tidak ada yang hilang secara riil.

BACA SELENGKAPNYA PADA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sebelum memberi komentar mohon awali dengan menuliskan data sbb : nama/npm/kelas kuliah/absensi kuliah