6 Januari 2026

Masa Depan Karier Lulusan dalam Bayang-bayang Kesejahteraan Dosen PTS

SETIAP tahun, perguruan tinggi meluluskan jutaan sarjana dengan janji masa depan yang lebih baik. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur: siapa yang sesungguhnya kita minta menyiapkan masa depan mereka? Jawabannya jelas dosen. Ironisnya, di Indonesia, khususnya di Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dosen justru menjadi kelompok yang paling rentan secara ekonomi dalam ekosistem pendidikan tinggi. Persoalan kesejahteraan dosen PTS tidak lagi bisa dianggap sebagai isu internal kampus atau urusan yayasan semata. Ini adalah masalah publik, karena menyangkut kualitas lulusan, daya saing tenaga kerja, dan arah pembangunan nasional.
Ketika mayoritas mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di PTS, maka kesejahteraan dosen PTS sesungguhnya adalah fondasi tak terlihat dari masa depan ekonomi bangsa. Fakta struktural pendidikan tinggi Indonesia menunjukkan ketimpangan yang mengkhawatirkan. Sekitar enam dari sepuluh mahasiswa Indonesia belajar di PTS. Artinya, mayoritas lulusan yang akan mengisi pasar kerja, birokrasi, dan industri dibentuk di institusi swasta.

Namun, perhatian kebijakan justru lebih terfokus pada perguruan tinggi negeri, terutama dalam hal penganggaran dan kesejahteraan dosen.Ketimpangan ini menciptakan ilusi mutu. Negara menuntut lulusan yang adaptif, inovatif, dan siap kerja, tetapi membiarkan sistem yang memproduksi mereka berjalan dengan fondasi rapuh. Kita seolah berharap pada hasil kelas dunia dari ruang dosen yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

Pemerintah kerap mengedepankan Sertifikasi Dosen (Serdos) sebagai bukti keberpihakan negara pada kesejahteraan akademisi. Dalam berbagai pidato kebijakan, Serdos diposisikan sebagai instrumen profesionalisasi sekaligus peningkatan taraf hidup dosen. Namun, bagi dosen Perguruan Tinggi Swasta (PTS), narasi tersebut sering kali tidak lebih dari retorika. Di lapangan, Serdos lebih tepat disebut sebagai ilusi kesejahteraan terlihat menjanjikan, tetapi rapuh sebagai sandaran hidup. Masalah mendasarnya sederhana, tapi krusial: Serdos bukan gaji. Ia tidak melekat pada struktur upah institusi, tidak menjamin kesinambungan penghasilan, dan pencairannya sepenuhnya bergantung pada mekanisme birokrasi serta kuota nasional.

Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/01/05/140057771/masa-depan-karier-lulusan-dalam-bayang-bayang-kesejahteraan-dosen-pts.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sebelum memberi komentar mohon awali dengan menuliskan data sbb : nama/npm/kelas kuliah/absensi kuliah