SETIAP zaman selalu merasa hidup di ambang krisis. Ketika teknologi baru muncul, manusia kerap cemas: apakah kali ini kita akan kehilangan sesuatu yang paling berharga yakni akal sehat dan kemampuan berpikir? Hari ini, kecemasan itu tertuju pada kecerdasan buatan. AI dituding membuat manusia malas berpikir, terlalu bergantung pada mesin, dan perlahan kehilangan daya nalar. Tuduhan ini terdengar masuk akal. Namun, jika kita bersedia berhenti sejenak dan membuka kembali sejarah panjang peradaban, kegelisahan ini ternyata bukan barang baru. Sejak awal, manusia tidak pernah menyelesaikan masalah hidupnya hanya dengan otak telanjang. Kita selalu menggunakan alat bantu sebagaimana disuarakan Clark & Chalmers dalam artikel mereka berjudul The Extended Mind (1998). Ketika manusia purba menggambar simbol di dinding gua, ia sedang menyimpan ingatan dan makna di luar dirinya. Ketika tulisan ditemukan, manusia tidak lagi harus menghafal segalanya. Ingatan dipindahkan ke medium yang bisa dibaca ulang, diperdebatkan, dan diwariskan. Banyak orang lupa bahwa pada masanya, tulisan pun pernah dicurigai. Plato khawatir tulisan akan melemahkan daya ingat dan melahirkan kebijaksanaan semu. Sejarah justru membuktikan sebaliknya. Pola ini terus berulang. Mesin cetak, kalkulator, komputer, hingga internet, semuanya pernah dianggap ancaman bagi cara manusia berpikir. Namun manusia tidak menjadi lebih bodoh. Ia hanya berubah.
Psikologi kognitif menunjukkan bahwa manusia memang cenderung memindahkan beban ingatan dan perhitungan ke alat bantu. Daniel Wegner (1985) menyebutnya sebagai transactive memory ; kita tidak harus tahu segalanya, cukup tahu ke mana harus mencari. Ini bukan kelemahan, melainkan strategi bertahan hidup dalam dunia yang makin kompleks. AI lahir dari kebutuhan yang sama. Dunia hari ini dipenuhi data, persoalan saling terkait, dan keputusan yang harus diambil cepat. Tidak ada individu yang mampu memproses semuanya sendirian. AI diciptakan bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk membantu mengelola kompleksitas itu.
Baca selengkapnya di : https://www.kompas.com/sains/read/2026/03/15/092841723/kemalasan-kognitif-salah-ai-atau-manusia.
Cari Blog Ini
12 Juni 2026
Kemalasan Kognitif: Salah AI atau Manusia?
(SE-UMSU),(MSi-UNDIP),(Ph.D-USM Malaysia) Sekarang sebagai Staf pengajar program studi akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Langganan:
Postingan (Atom)